Selasa, 01 Januari 2013

DI UJUNG PELANGI

setitik cahaya rasuki jiwa yang kelam.
terasa hangat dan menentramkan.
gundah ini hilang tak bertepi.
malaikat pun ikut tertawa, karena senyum itu kembali datang.

penuh warna juga penuh cita.
tertawa tersenyum meski takdir mempermainkan hati
di ujung pelangi, dia akan menungguku.
di ujung pelangi, akan ku raih genggaman itu dan ikut berlari bersamanya.

di ujung pelangi, kemenangan itu akan tiba.
di ujung pelangi, tak ada lagi rahasia dan sesal.
di ujung pelangi, semua akan terasa indah (jika sudah pada masanya)
di ujung pelangi, hati ini membenarkan segalanya..

Minggu, 25 November 2012

RESENSI FILM SAVING PRIVATE RYAN




Jenis         : Action – Drama

Sutradara  : Steven Spielberg

Produser   : Steven Spielberg

                    Ian Bryce

                    Mark Gordon

                    Gary Levinsohn

Cast : 

Tom Hanks (Captain John Miller)

Tom Sizemore (Sergeant Mike Horvath)

Edward Burns (Private First Class Richard Reiben)

Barry Peppers (Private Daniel Jackson)

Adam Goldberg (Private Stanley “Fish” Mellish)

Vin Diesel (Private First Class Adrian Caparzo)

Giovanni Ribisi (Irwin Wade, a Medic)

Jeremy Davies (Timothy E. Upham, Cartographer)

Matt Damon (Private First Class James Francis Ryan)

Harve Presnell (General George C. Marshall).

Kathleen Byron (Mrs. Ryan)


Durasi : 170 Menit

Tahun Rilis : 24 Juli 1998 (AS)

                   5 Desember 1998 (Indonesia)


Sinopsis

Film ini bertemakan peperangan pada saat invasi AS ke daratan Normandia, Prancis pada perang dunia II. Film ini menceritakan tentang penjemputan / pencarian seorang Prajurit yang bernama James Francis Ryan, seorang penerjun dari satuan 101st Airborne untuk dibawa kembali pulang ke Amerika Serikat karena ketiga kakaknya tewas dalam invasi, dua kakak tertua nya tewas dalam invasi di pantai Omaha, Normandia dan satu lagi tewas dalam penyerangan melawan Jepang di Nugini. Oleh karena itu, General George C. Marshall selaku pemimpin militer tertinggi AS memerintahkan pada Capt. John Miller untuk mencari dan menjemput Prajurit tersebut. Akhirnya, Capt. John Miller membentuk sebuah tim kecil yang beranggotakan 8 orang, yakni Sergeant Mike Horvath, Private First Class (PFC) Reiben, Private Jackson, Private Mellish, Private Caparzo, Ahli Medis Wade, Upham (penerjemah). Dengan minimnya informasi tentang Ryan, tim “8” ini pun pergi ke Neuville. Namun, tim pun harus kehilangan Private Caparzo yang tertembak oleh sniper Jerman yang bersembunyi di menara sebuah gereja. Kemudian, tim melanjutkan perjalanan dan menemukan seorang perwira yang bernama James Frederick Ryan, yang ternyata salah orang. Dalam perjalanan pun tim diberi tahu untuk menuju Vierville, yang disebut – sebut titik pendaratan pasukan penerjun.

Beruntung, dalam pencarian tersebut tim bertemu dengan seorang prajurit sekelompok dengan Ryan dan ia mengatakan bahwa semua anggota penerjun terpencar, namun mereka memiliki rally point di Ramelle. Tanpa banyak waktu tim pun langsung melanjutkan perjalanan ke Ramelle. Saat perjalanan menuju Ramelle, tim melewati sebuah pertahanan radar yang tidak terpakai milik Jerman. Dalam penyerbuan itu, Irwin Wade, Anggota medis pun tertembak dan tewas.

Pada saat perjalanan menuju Ramelle, tim dihadang sebuah kendaraan taktis milik Jerman. Tim pun berhasil menghancurkan kendaraan tersebut dibantu dengan tim kecil lain yang di dalamnya tergabung PFC Ryan, prajurit yang dicari – cari tersebut. Kemudian Capt. Miller memberitahukan perihal maksud dari misinya, yaitu membawa PFC James Ryan pulang ke AS karena ketiga kakaknya tewas dalam perang. PFC Ryan awalnya menolak untuk pulang dan ingin melanjutkan perang di Ramelle, namun ketika mendengar perkataan Reiben bahwa sudah 2 orang tim nya (Caparzo dan Wade) tewas dalam pencarian dirinya, Ryan pun luluh. Namun, basis tempat pasukan Ryan adalah perbatasan wilayah dan pasukan Jerman akan datang menyerang. Pasukan Capt. John Miller pun ikut turut membantu dan melawan pasukan Jerman yang datang dengan persenjataan lengkapnya. Satu per satu anggota Tim Miller pun tewas dan ketika Tim Miller terdesak dan ingin menghancurkan jembatan yang menghubungkan dengan wilayah lain, muncul kembali prajurit Jerman yang dilepas oleh Capt. Miller pada saat penyerbuan di dekat Ramelle. Pada saat terluka parah, Capt. Miller pun menembaki Tank Tiger hingga muncul P-51 Tank Destroyer. Dan tim pun akhirnya memenangkan pertempuran tersebut.

Memang tidak seru kalau hanya membaca sinopsis ini, lebih baik anda menonton film nya dan merasakan suasana Perang Dunia II yang telah menjadi sejarah.

Sumber:


Sabtu, 13 Oktober 2012

PROFESI AGEN ASURANSI JIWA

          Meningkatnya pertumbuhan industri asuransi jiwa dan juga persaingan antar perusahaan asuransi jiwa ternama di Dunia, khususnya Indonesia, membuat profesi sebagai tenaga pemasaran atau agen asuransi jiwa banyak diminati oleh kalangan masyarakat. Mulai dari direktur, pengusaha, dosen, karyawan, mahasiswa bahkan ibu rumah tangga. Tentu menjadi seorang agen asuransi jiwa bukanlah cita – cita seseorang sejak kecil. Namun, dengan perkembangan zaman yang terus mengalami kemajuan, profesi tersebut bisa menjadi profesi utama. Mereka beralasan menjadi seorang agen asuransi jiwa bisa mewujudkan impian yang sebelumnya dianggap mustahil menjadi sebuah kenyataan. Namun, untuk digarisbawahi agen asuransi jiwa bukanlah pilihan terakhir untuk berkarier karena ini adalah sebuah profesi, sama halnya dengan profesi seorang dokter, pengacara, artis.
          Minat positif yang diberikan oleh masyarakat Indonesia membuat orang ingin sekali menjadi seorang agen asuransi jiwa, yang tentu terbaik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Harus disadari, menjadi agen asuransi jiwa adalah profesi yang sangat mulia di muka bumi ini. Bayangkan, ketika sebuah keluarga ditinggal oleh kepala keluarganya, seorang agen asuransi jiwa datang menyerahkan cek sejumlah nilai tunai yang ditinggalkan oleh kepala keluarga kepada ahli waris keluarganya tersebut. Mungkin tidak sebanding dengan nilai dari kepala keluarga tersebut, namun setidaknya hal tersebut bisa membantu mengurangi masalah beban hidup, khususnya masalah finansial sepeninggal kepala keluarganya dalam keluarga tersebut. Seringkali muncul stigma negatif bahwa asuransi jiwa itu hanya untuk 'sumpahin orang agar sakit kritis' atau bahkan 'sumpahin orang agar cepat mati'. Tentu kita harus merubah stigma negatif masyarakat tersebut menjadi sebuah stigma yang positif. Kesadaran masyarakat Indonesia bisa dibilang masih dalam angka yang sangat kecil. Tentu membangun kesadaran masyarakat untuk berasuransi dalam skala luas bisa menjadi kebanggaan ataupun penghargaan bagi agen asuransi jiwa tersebut.
          Maka dari itu, masyarakat bisa menilai betapa mulia nya tugas seorang asuransi jiwa, tidak semata – mata mendapatkan materi saja tetapi dapat menolong mempersiapkan masa depan pencari nafkah untuk melindungi penghasilan dan nilai ekonominya.